Liburmah

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 13 Agustus, 2019

Beriringan dengan membangkitnya kesadaran bahwa iklim kita dan kesehatan Bumi cukup banyak dipengaruhi oleh emisi dioksida karbon dari alat-alat transportasi (terutama pesawat), muncullah beberapa konsep dan kata yang tergolong baru di Eropa. Lambat laun, kemungkinan besar kata-kata ini akan masuk ke dalam (bahasa) Indonesia juga. Mengingat itu, barangkali pantas kalau kita menengok beberapa alternatif sebelum penutur dan pekamus memeluk dengan erat secara langsung istilah-istilah tersebut dari bahasa-bahasa asing. 

Lanjut membaca

Sabotase dan Sandalisme

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 29 Juni, 2019

Asal-usul kata sabotase agak kabur. Yang jelas, kata ini berasal dari bahasa Perancis: sabot adalah ‘sepatu kayu’ yang banyak dipakai  petani dan orang-orang tak berpunya. Salah satu teori yang sering dikemukakan ialah bahwa para pekerja kasar membuang sepatu mereka ke dalam mesin,  merusaknya, pada awal zaman industrialisasi sebagai protes atas ketakadilan yang mereka alami. Kemungkinan besar ini  mitos belaka sebab tak masuk akal orang miskin bersedia mengorbankan sepatunya begitu saja. Gampang pula mencari pelakunya.

Lanjut membaca

Kata Yang (Nyaris) Punah


[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 18 Mei, 2019] K

Beberapa saat yang lalu saya mendengarkan istilah Bahasa Swedia yang sudah lama tidak saya dengar, yakni radiokaka. Artinya secara harfiah ‘kue radio’, dan, jika dilihat sekilas, komposisi kata ini kelihatan tak masuk akal. Dalam konteks tertentu, istilah ini terasa wajar dan waras, muncul setelah Perang Dunia II ketika televisi belum masuk Swedia secara luas, pada masa orang haus warta ataupun hiburan. Radio memenuhi kebutuhan ini.

Lanjut membaca

Kok dan Bulu Tangkis

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 6 April, 2019]

Bola bulu tangkis biasa kita sebut kok. Menyebutnya bola sebenarnya terasa agak janggal, sebab kata ini mengisyaratkan benda bulat, jadi cukup praktis ada kata sendiri: kok. Tapi dari mana kata ini berasal? Orang Inggris sering menyebut bola badminton ini shuttle yang merupakan singkatan dari shuttlecock. Kata ini sudah ada sejak bulu tangkis mulai jadi populer di Inggris pada abad ke-19, dan bahasa Indonesianya kok berasal dari bagian terakhir kata ini, yang berarti ‘ayam jantan.’ Dengan demikian shuttlecock bisa diartikan sebagai ‘ayam jantan yang mondar-mandir’, ‘ayam jantan yang hilir-mudik’ atau barangkali ‘ayam jantan yang lalu lalang.’ Setiap orang yang dengan mata capai pernah menonton pertandingan bulu tangkis sudah tahu bahwa bola yang berbentuk khas itu memang bagaikan ayam yang hilir-mudik tanpa tahu lelah. Bola yang asli (tidak berbahan plastik) juga terbuat dari bulu angsa atau bebek, yang dengan mudah dapat menyerupai ayam. Mengapa bahasa Indonesia menyerap shuttlecock dalam bentuk kok, dan bukan syatel (shuttle) ataupun ayam saja, saya tidak tahu. Orang Inggris juga mengenal istilah bird atau birdie sebagai sinonimnya, tapi burung jelas bukan nama lain untuk kok ini.

Lanjut membaca

Bencana Katastropik

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 2 Maret, 2019]

Bahasa yang digunakan di negara yang sering dilanda bencana tentu saja memerlukan sejumlah kata dan istilah terkait bencanaitu. Setelah tahun 2004, kata tsunami, yang berasal dari bahasa Jepang mendunia, jadi bagian dari bahasa Indonesia. Meski begitu, bahasa Aceh telah kenal kata smong sebagai penggantinya. Sampai sekarang, kata yang mencerminkan kearifan lokal ini belum masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata tsunami, di lain pihak, teleh terekam dengan arti “gelombang laut dahsyat (gelombang pasang) yang terjadi karena gempa bumi atau letusan gunung api di dasar laut (biasanya terjadi di Jepang dan sekitarnya)”. Rujukan ke Jepang terasa agak janggal, mengingat dekatnya Indonesia dengan gempa bumi dan tsunami .

Lanjut membaca

Gendut, Hitam, Pesek, Pendek

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Majalah Tempo pada edisi 01 Februari 2019]

Pada akhir tahun 2018 lalu, saya menyempatkan diri berlari di Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman dalam rangka Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day dalam BIB- Bahasa Indonesia Baru). Alangkah asyiknya berlari dengan bebas di pusat kota sampai Blok M dan kembali lagi untuk swafoto di Bundaran Hotel Indonesia sebelum sampai di Monumen Nasional lagi. Tidak jauh dari Sarinah, lelarian saya tiba-tiba terhenti sebab saya melihat papan di pinggir jalan yang bertuliskan: “Kamu gendut? Kami punya solusinya!” Saya terperanjat, dan merasa terpaksa berhenti dan memfoto tulisan canggung ini. Kalau tulisan itu tidak difoto, anak-anak saya tidak bakal percaya, gumam saya sendiri. Tempatnya sepi. Tak ada satu orang pun yang datang ke situ untuk mengaku gendut dan minta solusi yang lebih kilat daripada berlari atau berolahraga lain.

Lanjut membaca

Diaspora Lagi

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 21 Juli, 2018]

Dalam rubrik surat pembaca maupun rubrik bahasa ini, kata diaspora akhir-akhir ini cari dan dapat perhatian. Soegio Sosrosoemarto menganggap kata diaspora tidak pas dipakai pada konteks modern sebab, katanya sendiri, terlampau erat hubungannya dengan sejarah kuno kaum Yahudi. Dalam rubrik bahasa, Kasijanto Sastrodinomo memberikan pemahaman atas kata diaspora yang lebih mendalam dan menyeluruh. Menurut Kasijanto, ada perbedaan di antara diaspora dan Diaspora sebab kata yang diawali huruf kapital mengandung pengertian politis, sedangkan yang pertama lebih bersifat umum. Katanya lagi, diaspora mirip dengan perantau meski kata terakhir ini tak mesti ada unsur politiknya.

Lanjut membaca

Anjing Tanah, Anjing Bentala

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 24 Maret, 2018]

Beberapa waktu yang lalu, sebagian orang Indonesia kembali merayakan Tahun Baru Imlek. Media, rumah makan dan pusat perbelanjaan pun tentu saja ikut heboh guna ikut meraih keberuntungan, seperti pada perayaan-perayaan yang lain. Mengingat perayaan Imlek secara terbuka baru diperbolehkan kembali pada waktu Gus Dur menjabat sebagai Presiden, dan baru dikukuhkan sebagai hari libur nasional di bawah kepemimpinan Megawati, maka kenyataan bahwa Imlek semakin hadir di Indonesia adalah hal yang baik. Bahkan, bahwasanya perayaan ini diperbolehkan kembali saja patut dirayakan, seperti semacam kemenangan bagi pemahaman pluralis. Yang keberatan ikut merayakannya karena kuatir dicap macam-macam, saran saya bagi mereka adalah ikut makan-makan saja. Toh, tidak pernah ada salahanya.

Lanjut membaca

Kasar atau (Sok) Akrab?

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 13 Januari, 2018]

Ketika saya mulai belajar Bahasa Indonesia, disampaikan bahwa kamu hanya bisa dipakai dengan kerabat atau saudara yang amat dekat atau dengan anak kecil. Segala penggunaan yang lain dianggap kurang sopan, dan dengan jelas akan memperlihatkan kenyataan bahwa kami, para pelajar, belum memahami bahasa asing ini. Kami disuruh memakai kata Anda atau kata panggilan yang tepat, seperti mbak, mas, bu, pak, dan seterusnya. Kalau kita berkonsultasi dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, ajaran ini sepertinya bisa dikatakan tepat. Kamu diartikan sebagai ‘yang diajak bicara; yang disapa (dalam ragam akrab atau kasar)’. Bagian terakhir ini yang penting: akrab atau kasar. Anda, di lain pihak, diartikan KBBI sebagai ‘sapaan untuk orang yang diajak berbicara atau berkomunikasi (tidak membedakan tingkat, kedudukan, dan umur)’. Dengan demikian, lebih amanlah memakai kata Anda.

Lanjut membaca

Magnitudo

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 23 Desember, 2017]

Mengingat posisi geografis Indonesia, tidaklah mengherankan sering terjadi gempa bumi yang menggoyahkan tanah dan ketenangan batin dari Sabang sampai Merauke. Kekuatan fenomena alami ini pada umumnya dijelaskan dengan dibantu oleh skala Richter (SR), walaupun terdapat beberapa sistem lain juga yang terkadang dinilai lebih pas dipakai. Skala Richter ini dikembangkan oleh Charles Richter dan Beno Gutenberg pada 1935 di California, Amerika Serikat.

Lanjut membaca