Sabotase dan Sandalisme

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 29 Juni, 2019

Asal-usul kata sabotase agak kabur. Yang jelas, kata ini berasal dari bahasa Perancis: sabot adalah ‘sepatu kayu’ yang banyak dipakai  petani dan orang-orang tak berpunya. Salah satu teori yang sering dikemukakan ialah bahwa para pekerja kasar membuang sepatu mereka ke dalam mesin,  merusaknya, pada awal zaman industrialisasi sebagai protes atas ketakadilan yang mereka alami. Kemungkinan besar ini  mitos belaka sebab tak masuk akal orang miskin bersedia mengorbankan sepatunya begitu saja. Gampang pula mencari pelakunya.

Orang kampung di Perancis juga disebut (secara merendahkan) sabot pada zaman ini. Ada kemungkinan cara mereka bekerja di kota–pelan dan kasar–merupakan dasar kata sabotase. Ketika pekerja reguler di kota mogok kerja, pemilik pabrik mendatangkan sabot ini dari desa guna menggantikan para pemogok. Namun, karena mereka tidak biasa bekerja di kota,  cara mereka bekerja lebih mirip sabotase.

Dalam bahasa Perancis sabot juga adalah kata untuk rem yang tersua di andong. Sabot dalam bentuk ini juga bersifat memperlambat sebagaimana sabot-sabot di atas.

Bahasa Indonesia, dalam bentuk KBBI, mencatat sabotase sebagai ‘perusakan milik pemerintah dsb (oleh pemberontak)’; ‘penghalang produksi perusahaan atau tindakan merusak dan menentang kelancaran kerja (oleh kaum buruh yang tidak puas)’;  dan ‘pemusnahan fasilitas militer, perhubungan, atau pengangkutan wilayah musuh oleh agen rahasia lawan atau oleh kelompok gerakan perlawanan bawah tanah’. Kelihatan  arti kedua yang paling dekat dengan penjelasan asal-usul kata ini di atas. Menariknya, KBBI juga mencatat lema sabot yang sama artinya dengan menyabot: ‘menggagalkan usaha atau tindakan orang lain dengan sengaja’; ‘merusakkan atau menghancurkan barang atau benda yang dapat merugikan pihak lawan’.

Tak jauh dari sabotase, kita menemukan kata vandalisme. Menurut KBBI, vandalisme adalah ‘perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lain (keindahan alam dan sebagainya)’ dan ‘perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas.’ Kata ini berasal dari bangsa Vandal yang menghancurkan sebagian kota Roma pada abad ke-5, kemudian kian “populer” selama dan setelah Revolusi Perancis pada akhir abad ke-18, dan diserap  berbagai bahasa.

Nah, sabotase dan vandalisme berasal dari bahasa-bahasa Eropa dan muncul dalam konteks tertentu. Sejauh yang saya tahu, di Indonesia tak pernah ada jenis sepatu kayu  yang digemari  sebagian orang Eropa (bahkan sampai sekarang) itu. Kemungkinan amat besar, orang Vandal tak pernah menginjak tanah Nusantara. Jika kita membiarkan pemikiran melayang sejenak dan membayangkan sebuah kata yang muncul di Indonesia untuk menggambarkan sabotase dan vandalisme, mungkin kata yang muncul di benak-benak kita adalah sandalisme. Kan, sandal adalah sabot orang Indonesia dan dengan ditambahkan -isme,  kita juga dapat kemiripan dengan  vandalisme. Yang kurang hanya konteks historisnya karena barangkali tak pernah ada pekerja-pekerja di Indonesia yang memperlambat kerja hanya karena pakai sandal. Atau?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *