Saudara-saudara!

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 5 April, 2014.]

Saudara-saudara! Apakah pembaca yang budiman bisa saya anggap saudara saya? Ya bisa, karena salah satu arti saudara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “sapaan kepada orang yang diajak berbicara”. Sejujurnya, kita tidak sedang berbicara di sini, tapi tidak salah kalau dikatakan bahwa kalian saya sapa dalam tulisan sederhana ini. Barangkali lebih tepat kalau kata berbicara dalam penjelasan KBBI tadi diganti berkomunikasi, sebab penjelasan seperti itu juga akan meliputi sapaan tertulis. Namun, bukan itu yang akan jadi pokok pembahasan di sini.

Lanjut membaca

Spamduk

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 17 Januari, 2014.]

KIRANYA susah membayangkan suatu bangsa yang lebih menggemari spanduk daripada bangsa Indonesia. Ada kumpulan spanduk di setiap sudut jalan. Tiada peristiwa, hal, atau keadaan yang tidak bisa digarisbawahi oleh spanduk. Ada spanduk berisikan ucapan selamat (Selamat Natal! Selamat Lebaran! Dirgahayu RI! Selamat Datang!), pesan politik (Pilihlah aku! Hentikan korupsi! Saya bisa menyejahterakan Anda!), pesan moral (Shalat sebelum dishalatkan! Patuhilah aturan lalu lintas! Hormatilah penganut agama lain!), ajakan (Hadirilah seminar ini!), iklan (Minumlah produk ini! Belilah pulsa sebanyak-banyaknya!), dan lain-lain. Di dunia maya pun situasinya sama: di setiap layar ada spanduk digital yang menyampaikan sejumlah pesan yang jauh lebih sering mengganggu daripada bermanfaat.

Lanjut membaca

Daerah (Tak Begitu) Istimewa

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 23 November, 2013.]

Dalam imajinasi populer, Yogyakarta sering menjelma sebagai penegak sekaligus pembela kebudayaan dan bahasa. Di sekitar alun-alun utaralah, bahasa Jawa dalam bentuk paling halus dapat didengarkan, dan di sekitar alun-alun selatanlah kesenian-kesenian Jawa bisa disaksikan dalam bentuk paling sempurna. Pas rasanya ketika Kongres Kebudayaan Indonesia belum lama ini berlangsung di Yogyakarta dan mengumpulkan lebih dari lima ratus budayawan dari seluruh Nusantara. Barangkali para budayawan ini sangat ingin menyaksikan dengan mata sendiri bagaimana kebudayaan dan bahasa berkembang, dibela dan dihayati di kota ini.

Lanjut membaca

Dot dan Titik

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 31 Agustus, 2013.]

Setiap orang yang pernah masuk pasar swalayan ataupun toko kecil di Indonesia dapat menarik kesimpulan bahwa susu bubuk merupakan bagian penting untuk setiap keluarga Indonesia yang salah satu anggotanya adalah anak kecil. Dalam iklan di media massa, susu bubuk ini digambarkan sebagai sumber kesehatan dan kepintaran dan kunci untuk segala kebaikan dan perkembangan. Tanpa susu yang benar yang diperkaya ini dan itu, anak Anda berisiko ketinggalan dari teman-teman dan nanti tidak siap menghadapi tantangan-tantangan lahir dan batin yang menunggunya di jalan kehidupan kelak. Toko-toko besar akan menyajikan puluhan meter di gang-gang sempitnya, yang hanya berisikan sejumlah produk susu. Saya tidak berani memikirkan jumlah uang yang diputar di dunia susu bubuk ini, dan saya juga tidak berani memikirkan peran dokter gigi dalam bisnis ini. Kan, susu yang hampir selalu manis ini juga memberi peluang (walau secara tidak langsung) kepada para dokter gigi. Sekarang saya di luar jalur kolom bahasa. Mari kembali kepada masalah kebahasaan.

Lanjut membaca

Gigi Biru

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 3 Agustus, 2013.]

Sebagai standar untuk komunikasi nirkabel, bluetooth semakin populer dan praktis digunakan. Dengan gampang, sebuah papan ketik, misalnya, dapat berkomunikasi tanpa halangan kabel dengan sebuah komputer, dan sepasang peranti dengar bisa berinteraksi dengan sebuah ponsel pintar tanpa menyusahkan dan membingungkan si pengguna dengan kehadiran kabel yang kian kerut. Nah, sebelum pembahasan ini dilanjutkan dari segi bahasa, tentu saja bahasa Indonesia perlu kita bersihkan dari noda yang berupa istilah bluetooth ini sendiri. Saran saya sederhana sekali: mari kita menyebutnya gigi biru. Toh, bluetooth adalah terjemahan langsung dari kata/nama blåtand, yang artinya justru ’gigi biru’.

Lanjut membaca

Teh Es dan Es Teh

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 6  Juli, 2013.]

Sebelumnya saya pernah menyinggung kesulitan yang dihadapi seseorang yang ingin memesan segelas jus jeruk di Indonesia. Minuman ini seolah-olah tidak dapat menjelma di sebuah restoran, rumah makan, hotel, atau warung di Nusantara kalau tidak dirujuk dengan kata-kata berbahasa asing. Ini cukup aneh mengingat jus mangga, jus pepaya, dan jus-jus lain dengan gampang bisa didapatkan, dan begitu juga dengan segelas orange juice. Kalau pembaca yang budiman tidak percaya, silakan coba memesan segelas jus jeruk pada malam Minggu nanti. Dan kalau berhasil, Anda mesti menerima tantangan berikutnya: memesan segelas jus jeruk di dalam pesawat. Itu pasti mustahil!

Lanjut membaca

Huru-hara

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 7  Juni, 2013.]

Setelah media Indonesia berberita mengenai kerusuhan yang terjadi di pinggiran Stockholm akhir-akhir ini, saya menerima beberapa surel dan pesan melalui media sosial dari kawan-kawan di Indonesia yang ikut prihatin terhadap situasi kemananan di Swedia secara umum dan terhadap keamanan kami sebagai keluarga secara khusus. Rumah kami kebetulan jauh lebih dekat dengan ibukota Denmark daripada ibukota Swedia, jadi kami selamat-selamat saja dari kekacauan yang mengguncang Stockholm pada awal musim panas ini.

Lanjut membaca

Manusia-Manusia Hewan

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 1 Maret, 2013.]

Pekan lalu saya secara pendek membahas idiom nyamuk pers dalam kolom bahasa ini. Walaupun Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa tidak memberi penilaian atas termulia-tidaknya ucapan ini, saya mengizinkan diri berkesimpulan bahwa nyamuk pers jarang dipakai untuk menghormati para wartawan. Sebaliknya, ini adalah idiom yang agaknya merendahkan kaum pewarta. Lanjut membaca

Jenis-Jenis Nyamuk

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 22 Februari, 2013.]

Pada suatu saat di sebuah negara nan jauh seorang anak bertanya kepada bapaknya: ”Pak, hewan apa yang paling berbahaya di dunia ini? Hewan apa yang paling menakutkan?” Tanpa perlu waktu untuk merenungkan masalah ini lebih lanjut, si bapak dengan segera menjawab, ”Nyamuk, Nak. Nyamuk.” Setelah memelototi bapaknya beberapa saat seolah-olah dia kehilangan akal sehatnya, si anak terjatuh saking keras tertawanya.

Lanjut membaca