Pergeseran Makna

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 26 Oktober, 2020]

Setiap kata yang diserap dari bahasa asing tidak pasti memiliki arti yang sama dalam konteks bahasa barunya seperti dalam bahasa aslinya. Ini barangkali penting direnungkan ketika melihat kesembronoan yang sesekali terjadi dalam penyerapan kata di. Namun, contoh pergeseran makna di bawah ini tidak berarti kami bisa seenaknya menyerap kata dari bahasa asing hanya dengan persamaan makna yang dikira-kira, atau dengan arti yang malah bertolak belakang.

KBBI menjelaskan candi sebagai ’bangunan kuno yang dibuat dari batu (sebagai tempat pemujaan, penyimpanan abu jenazah raja-raja, pendeta-pendeta Hindu atau Buddha pada zaman dulu)’. Dengan penjelasan ini, KBBI sepertinya bisa mendefinisikan “bangunan kuno yang dibuat dari batu” apa saja sebagai candi, tapi pada umumnya saya kira mesti dikaitkan dengan agama Hindu atau Buddha. Borobudur dan Prambanan niscaya merupakan candi yang paling terkenal di Indonesia. Hanya saja, candi dalam bahasa aslinya (Sanskerta) tidak merujuk pada bangunan kuno, tetapi kekuatan, atau ”shakti”, Brahman, yang merupakan penguasa tertinggi dalam konsep ketuhanan Hindu. Candi juga nama lain untuk dewa Durga, yakni dewa perang yang juga merupakan shakti-nya Siwa. Sama sekali tak ada hubungan antara candi dalam bahasa Sanskerta dan bangunan bebatuan.

Kata lain yang cukup menarik adalah cahaya. Dalam bahasa aslinya, kata ini (dalam bentuk chaya) berarti ’teduh’ atau ’tempat teduh’. Kedua arti ini saling bertolak belakang, walaupun bisa diargumentasikan bahwa cahaya dan teduhan hanyalah dua sisi dari kenyataan yang sama. Tiada teduhan tanpa cahaya, dan cahaya pasti akan menimbulkan teduhan.

Sebuah kata yang lebih susah dipahami artinya adalah pujangga atau bujangga. Menurut KBBI, pujangga adalah ’1. pengarang hasil-hasil sastra, baik puisi maupun prosa, 2. ahli pikir; ahli sastra; bujangga’, sedangkan bujangga juga menambahkan arti ’pendeta; petapa; orang cerdik pandai’. Kata ini dikira sebagian orang berasal dari bahasa Sanskertanya bhujaga yang artinya ’ular’. Karena agak susah melihat jejak dari seekor ular ke seorang pujangga, sebagian orang lain mengira bahwa pujangga ini adalah Sanskritisasi dari bujang, yaitu lelaki yang belum menikah. Masalah ini dibahas lebih lanjut oleh de Casparis (Sanskrit Loan-Words in Indonesian, 1997).

Adapun kata-kata lain dalam bahasa Indonesia yang aslinya dalam bahasa Sanskerta agak berbeda, misalkan istri yang arti aslinya adalah perempuan. Pergeseran makna mungil ini juga terdapat dalam kata-kata lain seperti cuci (suci), juta (sepuluh ribu), kata (cerita), pendeta (sarjana), dan sutera (benang). (Arti bahasa Sanskerta dalam kurung.)

Ada juga kata yang ditafsirkan secara puitis, misalkan kosakata yang berasal dari kosa dan katha. Arti kosa adalah ’gudang’, sedangkan arti katha adalah ’cerita’. Dengan kata lain, kata ”kosakata” memiliki arti yang cukup indah, yaitu ’gudang cerita’. Nama burung cenderawasih juga terdiri dari dua kata bahasa Sanskerta, yakni candra (’bulan’) dan vasi (’hidup’). Jadi, nanti kalau sudah boleh berwisata ke Papua lagi, ingatlah bahwa burung amat elok ini juga memiliki nama yang tak kalah cantik: bulan hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *