Beberapa Masyarkat

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 27 April, 2021]

Pandemi sudah menggagalkan banyak rencana perjalanan dan kekecewaan umum makin menumpuk. Bagi kami yang sudah lama tidak bisa mengunjungi Indonesia, Nusantara serta penghuninya dalam khayal kami makin diagungkan dan dimuliakan. Begitu pula dengan makanan, minuman, tempat, kegiatan, dan cuaca yang kami rindukan. Untuk menyeimbangi rasa itu, ada gunanya mengingat-ingat beberapa ucapan yang selalu mengganggu, bagaikan goresan di zamrud.

Lanjut membaca

Ingat Pesan Ibu

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 12 Januari, 2021]

Sudah pasti bahwa setiap usaha ikhlas untuk mencegah penyebaran virus korona merupakan usaha terhormat. Dunia rupanya tidak pernah segelap ini sejak wabah flu spanyol merajalela sekitar seratus tahun yang lalu, dan kita tentu perlu memerangi ancaman baru ini bersama-sama. Meski begitu, ada cara menyampaikan informasi yang bisa dinilai baik, dan ada kebalikannya.

Ketika saya menjadi pengontrak rumah pertama kali di Yogya lebih dari dua puluh tahun yang lalu, Ibu yang menyewakan hunian sederhana itu mengajarkan strategi 3M kepada saya. Dengan bangga dan terang, dia menjelaskan bahwa penyakit demam berdarah dan malaria (dan nyamuk secara umum) bisa diperangi melalalui 3M: menguras, menutup, mengubur. Dari awal saya tidak begitu diyakinkan oleh strategi ini dari segi bahasa. Soalnya, saya baru saja menyadari bahwa hampir semua kata kerja dalam bahasa Indonesia bisa diawali oleh meN-. Dengan demikian, konsep 3M agak kehilangan relevansinya dan setelah sepuluh menit saya sudah lupa akan penjelasan Ibu tadi. 3M? Membeli obat nyamuk, memakai kelambu, menyalakan obat bakar? Menarik selimut, memakai baju berlengan panjang, menghindari sungai kotor?

Setelah nyaris tidak kelihatan selama waktu agak lama, sekarang masalah 3M ini kembali muncul. Pada zaman wabah ini kita diingatkan oleh pemerintah serta berbagai instansi kesehatan agar kami selalu ingat “pesan Ibu”, yang kebetulan masih saja 3M. Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Karena nyamuk masih berkeliaran dan menyebarkan berbagai penyakit, ini agak membingungkan. Dan masalah awal (bahwa kebanyakan kata kerja diawali dengan meN-), tetap ada. Dalam benak saya muncul macam-macam 3M yang dapat berguna: mencuci, membilas, menjemur (kunci untuk menjaga kebersihan baju), mengupas, mengulek, menggoreng (kunci menyiapkan bumbu), atau membawa bunga, memakai wewangian, mentraktir (kunci berkencan). Pendek kata, jika nyaris setiap kata kerja diawali meN-, maka sistem 3M (atau lebih banyak M lagi), terlampau umum. Hemat saya, diperlukan sesuatu yang lebih spesifik. Mungkin CIA lebih mudah diingat: cuci tangan, ingat jarak, ambil masker. Atau akronim seperti TAJAM: tangan (dicuci), jarak (dijaga), mulut (ditutupi masker).

Sebenarnya, ada satu masalah lagi dengan kampanye “Ingat Pesan Ibu” ini, yaitu pertanyaan: Siapakah Ibu? Saya mengerti bahwa maksudnya adalah mengedepankan sosok yang kita hormati dan kagumi, dengan maksud tersirat bahwa Ibu selalu paling tahu. Namun, tidak mungkin hanya saya saja yang bertemu dengan ibu-ibu yang jauh dari sosok ideal ini. Harus diakui, banyak ibu yang sering keliru, bahkan sesat. Maka, lebih baik mengatakan instansi yang sebenarnya berdiri di belakang slogan ini, yakni Kementerian Kesehatan.

O ya, saya memakai “virus korona” sebagai padanan corona virus di atas, dan saya kira istilah ini sudah cukup lazim dipakai di Indonesia. Namun, setahu saya belum ada padanan yang tepat untuk penyakitnya sendiri, yakni Covid-19. Tidak jarang corona dan covid digunakan seolah-olah mereka bersinonim, tapi itu tentu keliru. Covid itu singkatan dari corona virus disease atau ‘penyakit virus korona’. Bagaimana kita semestinya menyingkatnya agar tidak kepanjangan? Perusko? Itu seperti kita menuduh orang-orang Rusia tak bersalah. Pesona? Jangan, kan sudah dipakai. Pusko? Sudah dipakai juga (‘pusat komando’). Pevik? Mungkin.

Jadi, sekarang begini: “Ingat Pesan Menkes: Tajam agar tidak kena Pevik-19”.

Pergeseran Makna

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 26 Oktober, 2020]

Setiap kata yang diserap dari bahasa asing tidak pasti memiliki arti yang sama dalam konteks bahasa barunya seperti dalam bahasa aslinya. Ini barangkali penting direnungkan ketika melihat kesembronoan yang sesekali terjadi dalam penyerapan kata di. Namun, contoh pergeseran makna di bawah ini tidak berarti kami bisa seenaknya menyerap kata dari bahasa asing hanya dengan persamaan makna yang dikira-kira, atau dengan arti yang malah bertolak belakang.

Lanjut membaca

Kompas dan Bentara

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 1 September, 2020

Dua bulan lalu, Harian Kompas merayakan hari jadinya (28 Juli, 1965) dan kini sudah berusia 55 tahun. Setahu saya, kata kompas sendiri belum dibahas di kolom Bahasa. Harian yang sudah dikenal baik dari Sabang sampai Merauke itu, bahkan di luar negeri, nyaris saja tidak dinamakan Kompas. Nama yang telah disiapkan tahun 1965 itu adalah Bentara Rakyat, tetapi Soekarno, Presiden kala itu, memilliki gagasan yang lain dan mengusulkan nama Kompas: “Aku akan memberi nama yang lebih bagus… Kompas. Tahu toh apa itu kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan dan hutan rimba” (Kompas, 2020-06-28). 

Lanjut membaca

Wisata, Wana & Tirta

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 4 Agustus, 2020

Sejak wabah menimpa dunia pada awal tahun ini, kepariwisataan berubah drastis. Karena sedang mustahil berwisata dengan aman, cukup kami renungkan beberapa kata wisata saja untuk sementara. KBBI mengartikan wisata sebagai verba dengan makna: ‘berpergian bersama-sama (untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dsb),’ ‘bertamasya’; dan ‘piknik’. Selain aneh bahwa wisata adalah verba (semestinya nomina menurut saya, dan Tesamoko setuju), aneh pula bahwa seorang diri tak mungkin berwisata, sebab mesti dilakukan bersama-sama. (Fenomena piknik pernah saya bahas di sini pada Agustus 2017.) 

Lanjut membaca

Pramugari

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 30 Juni, 2020

Seseorang yang belum saya kenal menyeru di media sosial: “Mas André, tolong bantu lacak asal kata pramugari/pramugara.” Secara instingtif, saya langsung menduga bahwa pramugari ini berasal dari bahasa Sanskerta, terdiri dari pramu dan gari. Ternyata, si penyeru memiliki garizah yang sama. Dia lanjutkan: “Arti gari itu ‘borgol’ atau ‘belenggu tangan’. Kok begitu disambung (pramu dan gari yang dikiranya adalah asal-usul pramugari) jadi elok banget?” Tanyaan yang masuk akal, saya kira.

Lanjut membaca

Jeruk Bali

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 26 Mei, 2020

Belum lama ini saya mendapatkan jeruk bali di Swedia, seolah-olah kejatuhan durian. Saya pun bergegas-gegas pulang dan menjelaskan kepada anak-anak bahwa buah ini adalah jeruk bali, bukan jeruk Bali apalagi Jeruk Bali. Mereka kelihatan bingung. Saya lanjutkan: Ya, sama seperti bahwa di kota eyang dan kakung tidak pernah ada sate Blora melainkan hanya sate blora. Mereka kelihatan lebih bingung lagi.

Lanjut membaca

Tambah Kecil

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 31 Maret, 2020

Salah satu istilah dalam bahasa Indonesia yang sejak dulu menggelikan imajinasi saya adalah tambah kecil. Barangkali kedua kata ini sering kita ucapkan tanpa direnungkan dulu maknanya, tapi itu tidak berarti masalah ini bisa dilewatkan begitu saja. Terdapat kontradiksi di dalam istilah ini, karena tambah atau menambah mengandung makna perluasan atau pembesaran (atau sejenisnya), sedangkan kecil berlawanan dengan hal itu. Menambah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ‘menjadikan (membubuhkan dan sebagainya) supaya lebih banyak (besar, hebat, dan sebagainya)’. Susah membayangkan seseorang yang sedang membuat sesuatu lebih besar, tapi hasilnya malah makin kecil.

Lanjut membaca

Roti, Kue, Tar, Pai, Biskuit

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 18 Februari, 2020

Saya ini orang yang gemar membuat kue dan roti, tapi lebih suka lagi membiarkan lidah dan perut menikmatinya. Siapa bisa menolak kue lapis, onde-onde, atau klepon? Yang jelas, bukan saya. Namun, sejak mulai belajar bahasa Indonesia dulu, saya mesti mengaku bahwa kata-kata yang dipakai menggambarkan kelezatan ini kerap membingungkan, dan saya kira bukan saya saja yang begini.

Lanjut membaca