Sabotase dan Sandalisme

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 29 Juni, 2019

Asal-usul kata sabotase agak kabur. Yang jelas, kata ini berasal dari bahasa Perancis: sabot adalah ‘sepatu kayu’ yang banyak dipakai  petani dan orang-orang tak berpunya. Salah satu teori yang sering dikemukakan ialah bahwa para pekerja kasar membuang sepatu mereka ke dalam mesin,  merusaknya, pada awal zaman industrialisasi sebagai protes atas ketakadilan yang mereka alami. Kemungkinan besar ini  mitos belaka sebab tak masuk akal orang miskin bersedia mengorbankan sepatunya begitu saja. Gampang pula mencari pelakunya.

Lanjut membaca

Kata Yang (Nyaris) Punah


[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada 18 Mei, 2019] K

Beberapa saat yang lalu saya mendengarkan istilah Bahasa Swedia yang sudah lama tidak saya dengar, yakni radiokaka. Artinya secara harfiah ‘kue radio’, dan, jika dilihat sekilas, komposisi kata ini kelihatan tak masuk akal. Dalam konteks tertentu, istilah ini terasa wajar dan waras, muncul setelah Perang Dunia II ketika televisi belum masuk Swedia secara luas, pada masa orang haus warta ataupun hiburan. Radio memenuhi kebutuhan ini.

Lanjut membaca

Untung Gundul

[Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Kompas pada tanggal 24 Juli 2009.]

Terkadang saya bersyukur tak punya rambut di kepala. Selain tak perlu bingung menyisir helai-helai berhamburan, saya juga tak usah susah-payah mendengarkan omongan pemotong rambut yang terkesan dipaksa-paksa itu. Namun, alasan utama saya mensyukuri kebotakan saya ini: sukar mendapatkan sampo di Indonesia saat ini. Hampir mustahil sekarang memperoleh sampo. Yang ada hanya schampoo.

Lanjut membaca